KENAPA HUJAN TERLAMBAT DATANG
DI
JAMPANGKULON
Tahun tahun
belakangan di daerah Sukabumi selatan banyak para petani yang mengeluh
sehubungan dengan hujan yang terlambat datang dan sungai sungai irigasi pemasok air ke sawah mengering, sedangkan di daerah daerah lain
banyak diberitakan hujan deras dan banjir yang menghancurkan banyak pemukiman
dan areal pertanian warga. Hal ini tentu
sering menimbulkan pertanyaan di benak warga.
Cuaca dan iklim
adalah dua gejala alam yang mempunyai unsur sama yaitu suhu udara, tekanan udara, kelembaban,
angin, awan, dan curah hujan. Perbedaan antara keduanya hanya dalam hal waktu,
dan daerah terjadinya gejala alam tersebut. Unsur unsur cuaca ini di dalam Al
Quran diterangkan sebagai berikut : “ Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan rahmatNYa
/hujan; hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung.Kami halau ke suatu
daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, maka kami keluarkan
dengan sebab hujan itu berbagai macam buah buahan ( Quran Surat Al Araf 7 : 57 )
Beberapa yang
dapat mempengaruhi kondisi iklim dan cuaca di wilayah Sukabumi Selatan adalah ;
kondisi geografis wilayah berupa dataran tinggi, tidak terdapatnya gunung Api
atau gunung besar di wilayah ini , Vegetasi hutan yang semakin menurun akibat
penebangan hutan sejak tahun 2000-an, kondisi iklim global yang semakin
panas akhir akhir ini.
Sekarang kita akan
bahas satu persatu faktor faktor tersebut diatas:
Pertama, kondisi geografis wilayah berupa dataran
tinggi , hal ini berdampak pada daya serap tanah terhadap air lebih rendah,
karena sifat air yang lebih menyukai
daerah yang lebih rendah, akibatnya ketika terjadi hujan, air mengalir ke
daerah yang lebih rendah.Dan juga tidak ditemukannya danau atau situ besar
untuk menampung air di musim penghujan.
Yang kedua, tidak
terdapatnya gunung api. Sebagaimana diketahui gunung api mempunyai pungsi
sebagai penangkap hujan. Hal ini terjadi ketika udara atau awan naik ke atas
gunung yang tinggi kemudian terjadi proses pengembunan yang jenuh atau
kondensasi, maka turunlah hujan di daerah sekitarnya. Bisa kita perhatikan
daerah yang mempunyai gunung api pasti
subur dan banyak hujan. Contoh kota
Bogor dengan Gunung Salaknya, Kota Sukabumi dengan Gunung Gede dan
Pangrangonya. Sedangkan daerah Jampangkulon dan sekitarnya tidak memiliki gunung api yang tinggi.
Yang ketiga, sudah
menjadi rahasiah umum bahwa hutan Pasir
Piring, Cibabi dan tempat tempat lainnya telah mengalami kerusakan yang
parah hampir dua puluh tahun terakhir
ini. Penulis masih ingat ketika hutan hutan tersebut masih hijau pada tahun 80-
an sungai sungai dan selokan selokan di wilayah Jampangkulon mengalir airnya
dengan jernih dengan berbagai macam
jenis ikan tumbuh beranak pinak, saya
dengan mudahnya memancingkan ikan sejenis lele , mujair ikan mas, soro
dan lain lain. Sekarang beberapa jenis ikan tersebut hampir musnah dan tinggal
kenangan.
Itulah beberapa
hal yang
penulis amati dan rasakan selama
puluhan tahun yang berkaitan dengan
kondisi lingkungan cuaca dan iklim yang
mempengaruhi aktivitas penduduk khususnya para petani yang kesulitan air.
Jampangkulon
Akhir Januari 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar