Senin, 30 Maret 2020

KEMARAU


KENAPA HUJAN  TERLAMBAT DATANG
DI JAMPANGKULON
Tahun tahun belakangan di daerah Sukabumi selatan banyak para petani yang mengeluh sehubungan dengan hujan yang terlambat datang dan sungai sungai  irigasi pemasok air ke sawah  mengering, sedangkan di daerah daerah lain banyak diberitakan hujan deras dan banjir yang menghancurkan banyak pemukiman dan areal pertanian warga. Hal ini tentu  sering menimbulkan pertanyaan di benak warga.
Cuaca dan iklim adalah dua gejala alam yang mempunyai unsur sama  yaitu suhu udara, tekanan udara, kelembaban, angin, awan, dan curah hujan. Perbedaan antara keduanya hanya dalam hal waktu, dan daerah terjadinya gejala alam tersebut. Unsur unsur cuaca ini di dalam Al Quran diterangkan sebagai berikut :  Dan Dialah yang  meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum  kedatangan rahmatNYa /hujan; hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung.Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah buahan ( Quran  Surat Al Araf 7 : 57 )
Beberapa yang dapat mempengaruhi kondisi iklim dan cuaca di wilayah Sukabumi Selatan adalah ; kondisi geografis wilayah  berupa  dataran tinggi, tidak terdapatnya gunung Api atau gunung besar di wilayah ini , Vegetasi hutan yang semakin menurun akibat penebangan hutan sejak tahun 2000-an, kondisi iklim global yang semakin panas  akhir akhir ini.
Sekarang kita akan bahas satu persatu faktor faktor tersebut diatas:
Pertama,  kondisi geografis wilayah berupa dataran tinggi , hal ini berdampak pada daya serap tanah terhadap air lebih rendah, karena sifat air  yang lebih menyukai daerah yang lebih rendah, akibatnya ketika terjadi hujan, air mengalir ke daerah yang lebih rendah.Dan juga tidak ditemukannya danau atau situ besar untuk menampung air di musim penghujan.
Yang kedua, tidak terdapatnya gunung api. Sebagaimana diketahui gunung api mempunyai pungsi sebagai penangkap hujan. Hal ini terjadi ketika udara atau awan naik ke atas gunung yang tinggi kemudian terjadi proses pengembunan yang jenuh atau kondensasi, maka turunlah hujan di daerah sekitarnya. Bisa kita perhatikan daerah  yang mempunyai gunung api pasti subur dan banyak hujan. Contoh kota  Bogor dengan Gunung Salaknya, Kota Sukabumi dengan Gunung Gede dan Pangrangonya. Sedangkan daerah Jampangkulon dan sekitarnya  tidak memiliki gunung  api yang tinggi.
Yang ketiga, sudah menjadi rahasiah umum bahwa hutan  Pasir Piring, Cibabi dan tempat tempat lainnya telah mengalami kerusakan yang parah   hampir dua puluh tahun terakhir ini. Penulis masih ingat ketika hutan hutan tersebut masih hijau pada tahun 80- an sungai sungai dan selokan selokan di wilayah Jampangkulon mengalir airnya dengan jernih dengan berbagai  macam jenis ikan tumbuh  beranak pinak,  saya  dengan mudahnya memancingkan ikan sejenis lele , mujair ikan mas, soro dan lain lain. Sekarang beberapa jenis ikan tersebut hampir musnah dan tinggal kenangan.
Itulah beberapa hal  yang  penulis amati  dan rasakan selama puluhan tahun yang  berkaitan dengan kondisi lingkungan  cuaca dan iklim yang mempengaruhi aktivitas penduduk khususnya para petani yang  kesulitan air.
                                                                                                                                                Jampangkulon Akhir Januari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahan Ajar Geomorfologi